Archive for September, 2006

Aku dan Komputer

Wednesday, September 20th, 2006

Ini sepenggal kisah aku berkenalan dengan komputer, benda yang sekarang menjadi sahabat sehari-hari. Dari mulai melakukan text processing, maupun spreadsheet hingga hal-hal lain seperti menonton maupun mendengarkan audio/video, browse, mailing, chat dan sebagainya. Sekarang, hampir tiap hari tak pernah tidak bertemu dengan benda yang satu ini.

Aku mulai mengenal komputer secara riil, bukan hanya nama ketika kelas 1 SMU, waktu itu ada ekstra yang tergolong semi wajib, wajib karena biya extra kurikuler wajib sedangkan sukarela karena kehadiran di kegiatan tersebut bukan hal wajib. Saat itu, materi yang dipelajari adalah DOS dan aplikasi text processor berpa WS dan Lotus. Baru 1 bulan, belajar komputer terasa menjemukan, karena matri yang masih dipelajari masih seputar DOS, yang terakhir diingat adalah membuat autoexec.bat. Akirnya, hanya bertahan 2 bulan, kegiatan tersebut ditinggalkan.

Memasuki kelas 2, Sorang guru bahasa Inggris, Sunarto, yang kebetulan tergolong jago komputer di SMUku mengajak lagi untuk menggiatkan kegiatan tersebut. Akhirnya dicobalagi untuk ikut serta, momen pertama kembali boring karena hanya anak-anak tertentu saja yang mengerti, sedangkan aku bloon. Rasa bosan kembali muncul, kemudian dipaksakan datang hingga akhirnya diperlihatkan demo ayng cukup menarik yaitu membuat chart dengan Lotus. Melalui demo tersebut, aku merasa terkesan dengan apa yang bisa dilakukan dengan komputer. Mulai saat itu, Lotus menjadi menu yang enak disantap dan perlahan-lahan bersahabat denganku, walau aku belum mahir dengan DOS dan WS (dua hal yang diajarkan pada kelas 1).

Di antara DOS dan WS, di momen tersebut hanya DOS yangaku pelajari melalui adik kelas, Ori namanya, yang kebetulan juga jago. WS sama sekali tak tersentuh hingga akhirnya suatu ketika sedang ada Test triwulan I, sang guru bahasa Inggris memberikan tugas untuk mengetik skripsi menggunakan WS. Ditawari hal seperti itu gengsi mau jawab tidak, akhirnya aku terima tawaran tersebut dengan segala optimisme, “Aku Pasti Bisa”.

Begitu pekan test selesai mulai kembali berkutat dengan WS, dengan bertanya kepada Ori, aku minta diajarkan membuka WS, dan menyimpan file tersebut ke disket. Selama 2 minggu, akhirnya ketikan itu selesai. Ketikan yang aku ketik bukan ketikan rapi, tapi ketikan lurus tanpa form yang jelas, karena perintah sang guru memang seperti itu. Nah, dari hasil ketikanku tersebut, sang guru melakukan pekerjaan merapikan dokumen, Betapa terkesannya aku, beliau melakukan dengan fungsi-fungsi kontrol yang otomatis merapikan dokumen tersebut.

Dari kejadian tersebut, DOS, Lotus dan WS aku pelajarin dengan sunguh-sungguh, sehingga akupun tak lagi sebodoh seperti dulu, meski sangat jauh untuk menuju mahir.

Bersambung.

Pudarnya Pesona Cleopatra

Wednesday, September 20th, 2006

Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalam kandungan aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal.” Ibunya Raihana adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan Solo dulu” kata ibu.

“Kami pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenis akan besanan untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon keikhlasanmu”, ucap beliau dengan nada menghiba.

Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi mentari pagi dihatinya, meskipun untuk itu aku harus mengorbankan diriku. Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun sesungguhnya dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang datang begitu saja dan tidak tahu alasannya. Yang jelas aku sudah punya kriteria dan impian tersendiri untuk calon istriku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa berhadapan dengan air mata ibu yang amat kucintai. Saat khitbah (lamaran) sekilas kutatap wajah Raihana, benar kata Aida adikku, ia memang baby face dan anggun. Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan tak kutemukan sama sekali. Adikku, tante Lia mengakui Raihana cantik, “cantiknya alami, bisa jadi bintang iklan Lux lho, asli ! kata tante Lia. Tapi penilaianku lain, mungkin karena aku begitu hanyut dengan gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra, yang tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung melengkung indah, mata bulat bening khas arab, dan bibir yang merah. Di hari-hari menjelang pernikahanku, aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit cintaku untuk calon istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia. Aku ingin memberontak pada ibuku, tetapi wajah teduhnya meluluhkanku. Hari pernikahan datang. Duduk dipelaminan bagai mayat hidup, hati hampa tanpa cinta, Pestapun meriah dengan empat group rebana. Lantunan shalawat Nabipun terasa menusuk-nusuk hati. Kulihat Raihana tersenyum manis, tetapi hatiku terasa teriris-iris dan jiwaku meronta. Satu-satunya harapanku adalah mendapat berkah dari Allah SWT atas baktiku pada ibuku yang kucintai. Rabbighfir li wa liwalidayya!

(more…)